๑۩๑ Selamat Merayakan Tahun Baru Hijriyah 1435 H, Tetap Perbanyak Shalawat kepada Manusia Terindah, Rasulillah Muhammad Ibni Abdillah ๑۩๑
Jumat, 10 Mei 2013

Makalah Konflik Sosial


       
  1. Pengertian konflik
    Konflik berasal dari kata kerja latin configure, yang berarti saling memukul, yang dimaksud dengan konflik sosial adalah salah satu bentuk interaksi sosial antara satu pihak dengan pihak lain didalam masyarakat yang ditandai dengan adanya sikap saling mengancam, menekan, hingga saling menghancurkan. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam
    interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik sosial sesungguhnya merupakan suatu proses bertemunya dua pihak atau lebih yang mempunnyai kepentingan yang relative sama terhadap hal yang sifatnya terbatas. Dengan demikian, terjadilah persaingan hingga menimbulkan suatu benturan-benturan fisik baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Berikut ini beberapa pendapat ahli tentang pengertian konflik :
    Berstein,
    menyebutkan bahwa konflik merupakan suatu pertentangan atau perbedaan yang belum pernah dicegah, konflik mempunnyai potensi yang memberikan pengaruh positif dan ada pula yang negative didalam interaksi manusia.
    Robert M. Z Lawang
    mengemukakan bahwa konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, dan kekuasan dimana tujuan dari mereka yang berkonflik tidak hany memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya.
    Soerjono Soekanto,
    konflik merupakan proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan kekerasan.
    Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977),
    konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
    Gibson, et al (1997: 437),
    hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
    Robbin (1996),
    keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
    Minnery (1985),
    Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
    Robbins, 1993,
    Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif.
    Pace & Faules, 1994:249
    Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami.

    B. Faktor-Faktor Penyebab Konflik Sosial
    Banyak sekali jenis konflik, mulai dari pemogokan buruh, kurusuhan rasial, perkelahian antar individu, sampai dengan perang terbuka hingga revolusi. Pada umumnya, para sosiolog berpendapat bahwa sumber konflik sosial adalah hubungan-hubungan sosial, politik, dan ekonomi. Mereka jarang menyoroti sifat dasar biologis manusia sebagai penyebabnya. Mereka membayangkan bahwa teoritisi konflik berpendapat konflik itu bersumber dadri perebutan atas sesuatu hal yang berbeda.
    Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan konflik sosial itu terjadi, antara lain :
    Perbedaan Individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
    Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
    Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
    Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
     Perbedaan Kepentingan

    Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
    Perubahan-Perubahan Nilai yang Cepat
    Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

    C. Jenis-jenis Konflik
    Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 6 macam :
    Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
    Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
    Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
    Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
    Konflik antar atau tidak antar agama
    Konflik antar politik.
    Menurut Ursula Lehr, konflik dibedakan menjadi 9 macam :
    Konflik dengan orang tua sendiri,
    Konflik ini terjadi sebagai akibat dari situasi-situasi hidup bersama dengan orang tua. Pengharapan-pengharapan orang tua dan kewajiban-kewajiban seorang anak kepad kedua orang tuanya sulit sekali dijalankan bersamaan secara serasi.
    Konflik dengan anak-anak sendiri,
    Konflik ini terjadi misalnya setelah orang tua mengetahui tingkah laku anak yang tidak cocok dengan harapannya. Akibatnya, orang tua memberikan tanggapan yang berlebihan, misalnya menghukum, mengurangi hak-hak mereka dan lain-lain. Dengan reaksi yang berlebihan ini, seorang anak mungkin melarikan diri dari rumah orang tuanya sendiri karena merasa ketakutan dan tidak betah lagi tinggal di rumah.
    Konflik dengan sanak keluarga,
    Pada masa kanak-kanak dan remaja dapat timbul konflik, terutama dengan kakek, nenek, paman atau bibi yang ikut dalam proses pendidikan (sosialisasi) anak. Pada masa-masa berikutnya, dapat timbul konflik dengan mertua atau keluarga suami atau istri yang dipandang terlalu ikut campur, atau dengan saudara-saudara, misalnya akibat pembagian harta warisan yang dianggap tidak adil.
    Konflik dengan orang lain,
    Konflik jenis ini timbul dalam hubungan sosial dengan teman, tetangga, teman sekerja, dan orang-orang lain di lingkungan. Konflik sosial ini dapat timbul karena adanya perbedaan pendirian atau pendapat antara anggota-anggota masyarakat mengenai suatu hal.
    Konflik dengan suami atau istri,
    Kesulitan-kesulitan dalam perkawinan, pertentangan-pertentangan kecil mengenai persoalan hidup sehari-hari atau perselisihan yang dalam mengenai persoalan hidup atau tujuan hidup dapat memicu terjadinya konflik antara suami dan istri.
    Konflik di sekolah,
    Berbagai macam konflik di sekolah antara lain berupa tidak dapat mengikuti pelajaran, tidak lulus ujian, persoalan hubungan antara guru dengan murid, atau persoalan kedudukan di antara teman-teman sebaya dalam kelas.
    Konflik dalam memilih pekerjaan,
    Konflik yang timbul dan sifat pekerjaan sendiri. Misalnya, membosankan atau terlalu berat atau konflik yang berhubungan dengan waktu kerja, aspirasi kerja, masalah keuangan, dan masalah hubungan dengan teman-teman kerja.
    Konflik agama,
    Berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat dan tujuan hidup, aturan-aturan yang bertentangan dengan agama, pindah dari suatu agama ke agama lain, menikah dengan orang yang berbeda agama, dan lain-lain.
    Konflik pribadi
    Misalnya, timbulnya karena minat yang berlawanan, tidak ada keuletan atau tidak ada kemampuan untuk mengembangkan diri dan meluaskan hidup.

    D. Akibat konflik
    Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :
    meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
    keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
    perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
    kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
    dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
    Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat menghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
    Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
    Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik.
    Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut.
    Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.
    Contoh konflik
    Konflik Vietnam berubah menjadi perang.
    Konflik Timur Tengah merupakan contoh konflik yang tidak terkontrol, sehingga timbul kekerasan. hal ini dapat dilihat dalam konflik Israel dan Palestina.
    Konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara memberikan contoh konflik bersejarah lainnya.
    Banyak konflik yang terjadi karena perbedaan ras dan etnis. Ini termasuk konflik Bosnia-Kroasia (lihat Kosovo), konflik di Rwanda, dan konflik di Kazakhstan



0 komentar:

Mari Berbagi Ilmu dengan like fanspage and follow twitter kami..

×
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow Us on Twitter..

Pengikut

About Me

Foto Saya

Pelajar dari sekolah SMK N 2 Surakarta yang ingin untuk memperdalam ilmu, khusunya ilmu agama agar menjadi orang yang berguna di tengah-tengah masyarakat