๑۩๑ Selamat Merayakan Tahun Baru Hijriyah 1435 H, Tetap Perbanyak Shalawat kepada Manusia Terindah, Rasulillah Muhammad Ibni Abdillah ๑۩๑
Senin, 15 April 2013

Nabi Menghibur Sahabat yang Kehilangan Putranya

 
Di antara sekian banyak sahabat yang aktif menghadiri majelis Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam, ada seorang sahabat yang senantiasa datang bersama putranya yang masih kecil. Ia suka mendudukan putranya itu di hadapannya. Suatu hari, Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam bertanya kepadanya :

“Apakah kau mencintainya?”




“Duhai Rasul, semoga Allah mencintaimu sebagaimana aku mencintai putraku ini,” jawabnya. (ucapan ini menunjukkan bahwa ia sangat mencintai putranya tersebut)

Suatu hari, putra yang sangat dicintainya itu meninggal dunia, sehingga ia tidak dapat hadir dalam majelis Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam. Ia selalu teringat kepadanya. Rasulullah pun segera menanyakan keadaan lelaki itu kepada para sahabat :

“Mengapa Fulan tidak hadir, apa yang terjadi dengannya?”
“Duhai Rasul, putranya yang biasa engkau lihat, meninggal dunia,” jawab para sahabat.

Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam segera mengunjungi sahabatnya itu dan menanyakan keadaan putranya. Ketika ia memberitahukan kepada beliau bahwa putranya itu telah meninggal dunia, maka Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam  mengucapkan bela-sungkawa kepadanya dan berkata :

“Duhai Fulan, mana yang lebih kamu sukai, engkau bersenang-senang dengan anakmu sepanjang hidupmu atau ia meninggal dunia terlebih dahulu dan nanti ketika kamu berjalan menuju salah sastu pintu surga, ternyata ia telah menantimu di sana dan membukakan pintu surga itu untukmu?”
“Duhai Rasul, tentu aku lebih suka jika ia terlebih dahulu menantiku di depan pintu surga dan membukakan pintu itu untukku,” jawabnya.

“Nah, itulah yang kamu peroleh,” sabda Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam.
Mendengar berita gembira ini para sahabat bertanya kepada Beliau saw :
“Duhai Rasul, keistimewaan ini hanya untuknya saja, ataukah juga berlaku untuk kami semua?”

“Ini juga berlaku untuk kalian semua,” jawab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam kisah diatas, ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Seorang pemimpin majelis, hendaknya ia peka terhadap kondisi orang-orang yang hadir di majelisnya. Berusaha mengenal lebih dekat. Jika mereka tidak tampak hadir, berusaha untuk mengetahui penyebabnya. Jika ia mengalami kesulitan, bertindak untuk menolongnya. Jika ia sedih, maka berusahalah untuk menghiburnya. Sehingga terjalinlah cinta kasih di antara sesama muslim, yang indah dan membawa kedamaian bagi segenap alam. Demikianlah majelis Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, penuh kasing sayang, saling menghormati dan mencintai.

dikutip dari buku Akhlak Nabi karya Habib Naufal Alaydrus

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Suhanallah.... tak terasa cucuran air mataku keluar (y)

Mari Berbagi Ilmu dengan like fanspage and follow twitter kami..

×
Diberdayakan oleh Blogger.



Follow Us on Twitter..

Pengikut